GTM bayi adalah gerakan tutup mulut saat makan. Ketahui penyebab, tanda-tanda, dan 7 cara efektif mengatasi GTM agar bayi kembali lahap makan.
1 minggu lalu · Buibu
GTM adalah kependekan dari gerakan tutup mulut, sebuah istilah yang merujuk pada anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut ketika Ibu suapi. Momen ini sering kali membuat orang tua Indonesia merasa cemas dan bingung, terutama ketika bayi baru memasuki fase MPASI (Makanan Pendamping ASI).
Gerakan Tutup Mulut (GTM) adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan dengan cara menutup mulut, memalingkan wajah, atau menunjukkan penolakan verbal maupun nonverbal saat diberikan makanan. Kondisi ini bukanlah penyakit, melainkan perilaku normal yang sering dialami bayi.
Hal ini umum dialami anak memasuki usia 1 tahun dan biasanya akan memuncak ketika ia berusia 2 tahun. Namun, GTM juga dapat muncul sejak bayi mulai dikenalkan dengan makanan pendamping ASI di usia 6 bulan.
Penelitian multisenter IDAI menyebutkan, kondisi tersering GTM adalah inappropriate feeding practice atau perilaku makan yang tak benar atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia. Ini adalah penyebab paling umum yang sering tidak disadari orang tua.
Tumbuh gigi, sariawan, infeksi saluran pernapasan atas, maupun gangguan gastrointestinal (GERD, konstipasi, intoleransi makanan) dapat menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan saat makan.
Anak bisa saja mengatupkan mulutnya erat-erat karena merasa bosan dengan makanan yang selama ini disajikan. Bahkan, saat yang Ibu sajikan merupakan makanan favorit.
Sajikan makanan dalam porsi kecil agar bayi tidak merasa kewalahan.
Pastikan bayi naik tekstur sesuai usianya untuk melatih kemampuan mengunyah. Untuk usia 6-8 bulan harus halus dan kental seperti mashed potato, jadi teksturnya bisa kita congkel, karena kalau terlalu encer kemudian bertemu dengan air liur bayi yang banyak, anak akan menyemburkan makanan.
Nia mengatakan, hal yang terpenting untuk mengatasi GTM adalah memberikan variasi pada makanan. Cobalah berbagai kombinasi sayuran, buah, protein, dan karbohidrat untuk mencegah kebosanan.
Yang terpenting adalah menjaga pendekatan yang positif dan sabar. Pendekatan berlandaskan feeding rules, suasana makan positif, variasi menu, dan perhatian terhadap kondisi anak secara menyeluruh sangat efektif.
Berikan waktu makan maksimal 30 menit. Jika bayi masih menolak makan setelah waktu tersebut, jangan memaksanya.
Hal lain yang harus dihindari dari memberikan MPASI yakni memaksa makan si anak. Karena kalau kita kasih porsi banyak, itu anak bisa langsung menolak, karena merasa terpaksa, misal dijejelin. Ini hal yang dihindari ketika memberikan MPASI.
Metode ini memberi kesempatan pada bayi untuk mengambil makanan sendiri, sehingga ia merasa lebih punya kendali atas proses makannya. Berikan finger food atau biarkan bayi memegang sendok sendirinya.
Jika bayi menolak makanan, beri jeda 30–60 menit sebelum mencoba lagi. Kadang bayi hanya butuh waktu untuk beristirahat atau bermain sejenak.
Jika GTM berlangsung lama atau disertai gejala medis, segera konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi untuk intervensi yang tepat. Perhatikan juga jika bayi menunjukkan tanda penurunan berat badan atau letargi.
GTM adalah fase normal dan biasanya bersifat sementara, terutama pada fase MPASI dan balita awal. Jangan merasa panik atau bersalah. Dengan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang tepat, bayi Anda akan kembali menyukai waktu makan.
Ingatlah bahwa setiap bayi adalah unik dengan perkembangan yang berbeda-beda. Fokus pada memberikan makanan bergizi, menciptakan suasana positif, dan mendengarkan sinyal kebutuhan bayi Anda adalah kunci sukses mengatasi GTM.